Orang Zaman Dulu di Jawa Ternyata Pernah Modifikasi Gigi, Bentuknya Bikin Auto Penasaran
Kalau sekarang orang rela pasang behel, veneer, atau bleaching demi senyum makin kece, ternyata orang Jawa zaman dulu juga punya “versi makeover gigi” sendiri. Namanya modifikasi gigi, dan bukti arkeologinya ditemukan pada rangka manusia dari situs Binangun dan Leran di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Yang bikin auto penasaran, bentuk gigi tersebut bukan sekadar aus karena dipakai makan, tetapi sengaja diubah dengan cara dikikir sehingga menghasilkan bentuk yang cukup unik. Penelitian arkeologi menyebut temuan seperti ini termasuk sangat jarang ditemukan pada situs kubur prasejarah di Jawa maupun Indonesia.
Beberapa fakta unik soal modifikasi gigi orang Jawa zaman dulu:
- Giginya sengaja dikikir — Modifikasi dilakukan pada bagian gigi depan dengan teknik pengikiran, bukan karena giginya rusak atau patah secara alami. Praktik seperti ini dikenal dalam tradisi Indonesia dengan istilah pangur, yaitu meratakan atau mengubah bagian tertentu dari gigi depan.
- Bentuknya bisa runcing seperti taring — Pada individu dari situs Binangun, gigi yang telah dimodifikasi terlihat menjadi lebih meruncing. Jadi, kalau dilihat sekarang, bentuknya mungkin bakal bikin orang mikir, “Ini gigi manusia atau efek filter?” Padahal benar-benar hasil perubahan fisik pada gigi.
- Ada yang menyerupai kuncup bunga — Gigi dari individu Leran 1 dan Leran 2 memiliki bentuk yang oleh peneliti digambarkan menyerupai kuncup bunga melati. Bentuk ini disebut sangat unik dan bahkan belum pernah ditemukan pada lokasi lain di Indonesia dalam penelitian tersebut.
- Bukan sekadar gaya-gayaan — Modifikasi gigi dalam masyarakat masa lalu umumnya berkaitan dengan budaya, identitas sosial, atau ritual tertentu. Penelitian tentang modifikasi gigi di Indonesia menunjukkan bahwa pola perubahan gigi dapat membantu peneliti memahami hubungan budaya dan perpindahan kelompok manusia pada masa lampau.
- Tradisinya ternyata punya jejak panjang — Pengikiran gigi bukan fenomena yang cuma muncul sekali. Tradisi modifikasi gigi pernah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia dan sebagian bentuknya bahkan masih memiliki kesinambungan budaya hingga masa kini, termasuk tradisi pangur di Jawa dan metatah di Bali.
Yang menarik, gigi ternyata bisa menjadi semacam “rekaman budaya” manusia. Arkeolog dan antropolog dapat melihat pola pengikiran, bentuk perubahan, serta bagian gigi yang dimodifikasi untuk mendapatkan petunjuk tentang kebiasaan dan latar budaya seseorang. Pada kasus Binangun dan Leran, bentuk modifikasi yang berbeda menunjukkan bahwa perubahan tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan tradisi budaya, bukan sekadar perubahan akibat kebiasaan mengunyah. Penelitian lebih luas terhadap populasi prasejarah Indonesia juga menunjukkan bahwa pola modifikasi gigi berbeda-beda antara Jawa, Bali, Sumba, dan Flores. Bahkan, variasi tersebut dapat membantu peneliti mempelajari kemungkinan hubungan antarkelompok dan pengaruh budaya yang terjadi pada masa lalu.
Jadi, sebelum ada tren veneer dan behel seperti sekarang, manusia di Jawa sudah punya cara sendiri untuk mengubah penampilan gigi. Bedanya, kalau sekarang dilakukan di klinik dengan alat modern, orang zaman dulu melakukannya sebagai bagian dari tradisi yang meninggalkan “jejak” unik pada tulang mereka. Dan ternyata, dari bentuk gigi saja, sejarah kehidupan manusia masa lalu bisa dibaca cukup jauh.