Ada Jejak Tangga Kuno di Lereng Merbabu yang Baru Bikin Peneliti Makin Penasaran
Kalau biasanya Gunung Merbabu identik sama jalur pendakian, kabut, dan pemandangan dari atas awan, ternyata gunung ini punya cerita yang jauh lebih tua. Namanya Situs Arkeologi Ngadirojo, berada di lereng timur laut Merbabu, wilayah Boyolali. Di sana ditemukan struktur teras dan tangga batu kuno yang bikin para peneliti bertanya-tanya: sebenarnya orang zaman dulu melakukan apa di tempat setinggi ini? Penelitian terbaru yang terbit dalam Berkala Arkeologi pada 2026 menyebut kawasan tersebut sebagai bagian dari lanskap spiritual kuno Gunung Merbabu.
Beberapa hal menarik dari jejak tangga tersebut antara lain:
• Tangga berada di ketinggian ekstrem
Struktur situsnya tersebar dalam lima teras, mulai sekitar 2.678 mdpl hingga 2.922 mdpl. Jadi, ini bukan sekadar undakan kecil di dekat permukiman, tetapi tinggalan yang berada jauh di atas kawasan tempat manusia biasanya beraktivitas sehari-hari.
• Tangga kemungkinan bukan cuma untuk naik-turun
Para peneliti melihat tangga sebagai bagian dari sistem teras. Struktur semacam ini bisa membantu menghubungkan permukaan yang berbeda sekaligus membuat area lereng lebih stabil. Dengan kata lain, orang zaman dulu tampaknya sudah memahami cara memanfaatkan kontur gunung.
• Ada prasasti yang bikin umur situs makin jelas
Di salah satu teras ditemukan prasasti pada batu andesit yang mencantumkan angka tahun 1449 Saka atau 1527 Masehi. Bentuk aksaranya juga memiliki karakter yang berkaitan dengan tradisi tulisan Merapi-Merbabu.
• Ada indikasi aktivitas keagamaan
Selain tangga dan talud, ditemukan pula fragmen gerabah serta wadah batu yang diduga berkaitan dengan penyediaan air. Kombinasi temuan ini membuat peneliti menduga kawasan tersebut mungkin pernah menjadi tempat aktivitas komunitas keagamaan atau pertapaan.
Yang bikin makin menarik, keberadaan jejak manusia di Merbabu ternyata bukan cerita baru. Prasasti Śarūṅga, misalnya, menunjukkan adanya pertapaan di kawasan lereng Merbabu pada masa Jawa Kuno. Ada pula Prasasti Damalung yang menyebut gunung tersebut dengan nama kuno Damalung dan menggambarkannya dalam konteks kesucian. Artinya, gunung ini kemungkinan sudah dianggap sebagai ruang penting secara spiritual selama berabad-abad.
Jadi, tangga batu di Merbabu bukan cuma sekadar “jalan kuno” yang kebetulan masih tersisa. Susunan teras, prasasti, dan berbagai artefak di sekitarnya justru memberikan petunjuk bahwa pernah ada aktivitas manusia yang cukup terorganisasi di lereng gunung tersebut. Dan sampai sekarang, pertanyaan tentang siapa yang membangunnya, bagaimana mereka menggunakannya, serta seperti apa kehidupan mereka di ketinggian ekstrem itu masih jadi bagian menarik dari misteri Merbabu.