Batu Hitam dari Bandung Ini Ternyata Pernah “Dikirim” Manusia Ribuan Tahun Lalu
Kalau sekarang orang Bandung kirim barang tinggal buka aplikasi, zaman dulu ceritanya beda banget. Ada satu “barang” yang ternyata sudah berpindah tempat ribuan tahun lalu: obsidian, batu hitam mengilap seperti kaca yang dulu banyak dimanfaatkan manusia prasejarah di kawasan Bandung. Batuan ini bukan sekadar batu biasa. Karena bisa menghasilkan sisi yang sangat tajam ketika dipecah, obsidian menjadi bahan penting untuk membuat berbagai perkakas. Yang bikin makin menarik, penelitian menunjukkan sebagian obsidian yang ditemukan di kawasan Bandung ternyata berasal dari sumber batuan di lokasi lain. Jadi, manusia zaman dulu ternyata sudah punya semacam “rantai distribusi” bahan baku sendiri.
Beberapa fakta unik soal “batu yang dikirim” ini:
- Bukan batu sembarangan. Obsidian merupakan batuan vulkanik yang memiliki struktur seperti kaca. Ketika dipecah dengan teknik tertentu, pecahannya bisa menghasilkan tepian supertajam. Karena itu, manusia prasejarah memanfaatkannya sebagai alat untuk memotong, menguliti hewan, hingga mengolah berbagai kebutuhan sehari-hari.
- Sumbernya tidak selalu berada di tempat ditemukan. Analisis terhadap artefak obsidian dari Gua Pawon menunjukkan adanya kesamaan komposisi kimia dengan obsidian dari Gunung Kendan di Nagreg dan Kampung Rejeng di Garut. Artinya, batu yang digunakan manusia di Bandung kemungkinan memang dibawa dari sumber bahan baku yang berada di luar lokasi pemakaiannya.
- Sudah digunakan selama ribuan tahun. Artefak obsidian yang ditemukan di Gua Pawon, berdasarkan penanggalan radiokarbon pada material yang terkait dengannya, diperkirakan berada pada rentang sekitar 5.600–9.500 tahun sebelum sekarang. Jadi, aktivitas pemanfaatannya bukan sekadar kejadian sekali-dua kali.
- Bandung ternyata punya banyak jejak obsidian. Penelitian BRIN pada kawasan Cekungan Bandung bahkan mengidentifikasi 20 situs obsidian. Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas manusia masa lalu dengan lingkungan sekitar Danau Bandung Purba.
Nah, bagian paling menariknya adalah konsep “dikirim” tadi. Jangan dibayangkan manusia prasejarah sudah punya ekspedisi dengan paket kardus dan resi digital. Maksudnya, ada indikasi bahwa bahan mentah atau batu obsidian dari sumber tertentu berpindah menuju tempat manusia tinggal dan beraktivitas. Di Gua Pawon, misalnya, para peneliti menemukan banyak artefak obsidian sekaligus sisa-sisa proses pembuatannya. Bahkan, penelitian asal-usul obsidian menunjukkan bahwa penghuni prasejarah Gua Pawon memanfaatkan sumber obsidian yang sama selama beberapa ribu tahun. Ini memberikan gambaran bahwa mereka bukan cuma menemukan batu secara acak, tetapi kemungkinan sudah mengetahui sumber bahan yang bagus dan menggunakannya secara berulang.
Jadi, kalau melihat batu hitam mengilap di kawasan Bandung, jangan buru-buru menganggapnya cuma batu biasa. Obsidian menyimpan cerita tentang teknologi, perjalanan bahan baku, dan cara manusia prasejarah beradaptasi dengan lingkungannya. Jauh sebelum ada marketplace dan jasa ekspedisi, manusia di sekitar Bandung ternyata sudah mengenal pentingnya mendapatkan bahan dari tempat yang tepat.